Orang bilang aku
wanita cantik tapi dungu. Aku punya segalanya tapi mengapa aku masih saja rela
dipermainkan Ricky. Ya, dipermainkan katanya. Jelas kalimat itu keluar dari
mulut-mulut nyinyir mahasiswi di kampusku saat aku berjalan melewati mereka dengan langkah anggun dan pongah. Begitupun sebaliknya kalimat yang didengar Ricky dari mulut teman
prianya.
Tampilkan postingan dengan label #FF2in1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #FF2in1. Tampilkan semua postingan
Rabu, 25 Maret 2015
Masih
“Sarah, selamat
ulang tahun sayang.” Seruku pada putri tunggalku.
“Semoga panjang umur
anakku.” Sambung Ayahnya yang berdiri tepat di sebelahku.
“Ayah.. bunda..” Sarah yang sudah terlelap sejak pukul Sembilan tadi seketika menggeliat dan melompat memeluk kami saat memberinya surprise yang tak pernah absen kami lakukan setiap tahunnya. Ia tersenyum lebar juga pada matanya. Senyum yang menyamarkan rasa kantuk yang menjarah mata indah miliknya yang kini sembab. Bagi kami kebahagiaan Sarah adalah segalanya. Kebahagiaan yang seharusnya kami jaga seutuhnya untuk Sarah. Seutuhnya.
Rabu, 18 Maret 2015
Apa lagi yang kita tunggu?
“Mungkin ini bukan yang pertama, Cha. Tapi kali ini gue mau sampein sesuatu yang beda dari kemaren. Yang bagi elo janji-janji semasa pacaran adalah hal murahan yang bisa dilakuin siapa aja. Padahal sih alasan sebenernya karena elo trauma aja ditinggalin. Intinya cuman mau loe tahu aja kalo gue juga capek sama perdebatan kita belakangan ini soal tujuan komitmen, jadi gue.. gue akan ngelamar elo.”
Resiko jatuh cinta
Mobilku
menepi di depan supermarket tak jauh dari rumah gadis di sebelahku. “Nafiya,
atau Naf saja.” Begitu gadis itu berujar tiga bulan lalu saat pertama kali kami berkenalan di sebuah warung cepat saji. Senyumnya hari itu kuanggap sebagai sapaan yang membuat langkahku mendekat menuju mejanya. Pertemuan yang kami sebut takdir.
Rabu, 11 Maret 2015
Pahit
Sebelumnya aku
minta maaf, sepertinya kita enggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini karena ada
beberapa hal yang kita enggak bisa terusin. Aku minta maaf harus seperti ini.
Mataku membelalak membaca kata per kata pesan itu. Setiap
kata serasa menohokkan satu belati ke jantungku. Batinku berteriak tak percaya
dengan apa yang barusan kubaca. Aku tidak sedang berkhayal, pesan itu nyata.
Sekeras apapun aku berusaha mengelak, kenyataannya Dion telah memutuskan
hubungan kami melalui pesan itu. Hubungan yang telah lama kami jalin berakhir di
sebuah pesan singkat. Singkat namun tikamannya tepat sasaran. Menembus jantung.
Dosa
Sayup-sayup kudengar ada orang yang mengetuk pintu
kamarku. Aku menggeliat di kasur lalu melirik jam beker di sisi kananku, pukul
06.12. Ini hari minggu, harusnya haram membangunkan seseorang sepagi ini. Aku turun
dari tempat tidur dengan langkah sempoyongan, membuka pintu, dan orang yang berdiri dibalik
pintu seketika membelalakkan mata 10 ton ku.
Rabu, 25 Februari 2015
Merawat rindu
Flash
Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di
Facebook dan Twitter @nulisbuku
“Kau sudah tidur, Ra?”Suara dari seberang
sana membuatku mengerang dari kasur
Aku melirik jam, pukul 02:15 dini hari. Waktu-waktu dimana kau sering membangunkanku melalui dering telepon. Waktu-waktu dimana aku harus beristirahat sedang kau baru saja membuka pejam dari tidur lelapmu.
“Aku belum tidur.”Dustaku setiap malam.
Hujan malam minggu
Flash
Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di
Facebook dan Twitter @nulisbuku
Guyur hujan membasahi tanah malam ini. Mungkin wujud
dari doa-doa picik para jomblo di malam minggu, begitu kata orang kebanyakan.
Mungkin juga termasuk doaku, yang memerlukan alasan untuk tak pulang dulu dari
tempat kursus, tempat aku dan kau mengajar. Karena hanya di tempat ini, aku
bisa berlama-lama bersamamu, menikmati senyum hangat dan tatapan teduhmu.
Rabu, 18 Februari 2015
Seribu tahun
“Ra.. boleh aku bertanya sesuatu?”
“Silahkan.”
“Pertanyaan ini sudah lama ingin kutanyakan, tapi aku
menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.” Fatir menatap lamat-lamat gadis dihadapannya.
“Langsung ke intinya.”
“Begini, kamu pernah bilang, kamu berharap seseorang bisa
membawamu pergi dari kehidupanmu sekarang?”
Rahasia Delia
“Terima kasih Rey, karena kamu ada disampingku saat orang
lain memilih pergi.”
“Kamu enggak perlu berkata seperti itu. Aku menikahimu
tanpa paksaan siapapun. Ini murni keinginanku sendiri.” Ucapnya sambil
menggenggam jemari wanitanya.
Delia tersenyum beranjak dari tempat tidurnya.
“Kau baik-baik saja, Del?” Airmata bergulir di pipi
wanita itu.
Langganan:
Postingan (Atom)