Kau tanya aku siapa, kutanya kau siapa
ketidakjelasan ini, siapa yg peduli?
sejarahpun takkan tahu kisah ini benar ada
kita sepasang ilusi yang mengabadi
Dan lagi kali ini,
terbangun di minggu sore, saat matahari mulai memerah
bungkam dalam gelap, terpaku kemudian
hening dalam pekatnya sisi kamar
hanya diselingi suara dari baling-baling kipas tua
Tentang lisan yang amat sulit menjabarkan
Seberapa menyesakkan rindu dalam diam itu sendiri
Sesekali bising sepotong hati memaki
Mempertanyakan dimana kepingannya berada
Ketukan hujan malam ini cukup mengusik kesunyian yang ada
Namun kehadiran rasa itu jauh lebih mengusik Rasa yang belakangan sering hadir di malam-malam penghabisan tahun
Yang tiba-tiba menggeliat didetik yang hampir sama disetiap malamnya
Membuncah namun cacat
Tanpa nama, tanpa karena, tanpa balas
Tak mampu dideteksi apa dan bagaimana, juga mengapa
Aku terlambat untuk memahami, bahwa cinta ternyata bukan hanya tentang menerima, namun juga merelakan.
Aku yang dulunya sulit membedakan antara memperjuangkan dan memaksakan.
Aku yang sempat menyalahkannya atas kebodohan yang kubuat sendiri.
Aku yang terlalu percaya bahwa dia takkan pernah pergi dariku.