Aku menyeruput susu hangat yang kubuat beberapa menit yang lalu, hangatnya sudah memudar memang, tapi tak memudarkan seleraku untuk menandaskannya. Sengaja kuminum sedikit-sedikit agar kebosanan menulisku kali ini tak kambuh karena ada selingan menenggak minuman. Yah, aku sekarang memang sering bandel, selalu mengikuti kemalasan menulis yang sebenarnya ada banyak kosakata yang selalu ingin kumuntahkan di atas lembaran-lembaran itu.
Ah, terima kasih segelas susu hangatku, setidaknya karena kamu kemalasan itu bisa kutepis malam ini, setidaknya karena hangatmu, hatiku sedikit merasa baik. Sedikit.
Lelahku hari ini berkali lipat dari kemarin, baru saja kembali dari perjalanan yang luarbiasa-sangat-jauh-sekali, hmmpp sedikit berlebihan tapi kenyataannya memang begitu, kalau tak percaya, coba tanya saja mereka yang berangkat bersamaku jam 10 pagi tadi dan baru pulang jam 5 sore. Perjalanan hampir seharian, namun keperluannya tak cukup sampai 30 menit.
Acara Akad nikah. Menghalalkan memang tak memakan waktu berjam-jam, hanya beberapa menit saja. Hanya proses menujunya saja yang sebagian orang menempuh waktu berbulan hingga bertahun-tahun, menjalin yang haram sebelum dihalakan. Ada juga yang diam-diam berikhtiar, tunggu siap baru sigap menghalalkan. Choose what you wanna choose but everythings have consequence.
Sepanjang perjalanan tadi dipenuhi keluhan mereka yang tak lain adalah keluarga dekatku, aku mengerti tempat mempelai wanita memang jauh, eh ralat, luarbiasa-sangat-jauh-sekali. Di kabupaten Maros, desa Tompo Bulu’ , katanya sih desa paling ujung, tak adalagi desa setelahnya selain gunung yang menjulang. Selain di penuhi peluh keringat, aku juga digerogoti rasa malu, tidak enak dengan keluhan-keluhan mereka, bagaimana tidak, aku adalah adik mempelai pria. Hari ini adalah hari pernikahan abangku, untuk kedua kalinya.
Setelah perceraiannya dengan mantan istrinya setahun lalu, perpisahan yang menggoreskan luka dalam di hati ibuku, abangku akhirnya memantapkan langkahnya hari ini untuk memulai kehidupan baru bersama wanita yang baru dikenalinya 2 bulan lalu, perkenalan singkat, sepertinya mereka berdua tak butuh waktu lama untuk meyakinkan diri setelah kegagalan yang masing-masing pernah mereka alami. Sepenuhnya adalah pilihan abangku. Aku, ibu dan kakak perempuanku hanya mendukung, apapun itu asalkan itu menjamin tak ada lagi luka gores untuk ibu kelak. Aku pribadi merestui apapun kebaikan yang disegerakan. Semoga di sana, Abahpun ridho, insha Allah.
Ahh,ibuku.. Aku sebenarnya hanya ingin berceloteh lebih banyak tentangnya saja,
Tadi pagi, sebelum berangkat aku sempat melirik saat beliau berusaha menyamarkan kusam dan kerutan di wajahnya dengan dandanan. Ibu, lelah itu, lelah itu tetap disana, aku menangkapnya dengan jelas. Lelahnya lebih lelah dari lelahku, lelahnya lebih dari siapapun yang membopong mempelai pria tadi, lelahnya sudah lama, lama sekali.
Tidur paling akhir, terjaga paling awal, entah sejak kapan kebiasaan itu beliau mulai, mungkin sejak dipersunting abahku, atau sejak mengandung kakak sulungku, atau sejak pertama menjadi ibu, entahlah aku tak pernah mempertanyakan soal itu walaupun seringkali ingin kusampaikan, “Sejak kapan lelah tak ibu sebut lelah?” Atau “Lelah yang seperti apa yang baru ibu sebut lelah?”
Jika ingin menyendu mungkin sekaranglah waktuku, saat semua orang telah pulang dan hening datang, saat aku hanya berdua, menatap ibuku yang terlelap, mencoba menerjemahkan setiap garis waktu di wajahnya. Jika itu adalah garis kehilangan, berarti ada banyak bongkahan rindu yang beliau simpan dalam diam.
"Tahukah kau bunda, hari ini sudah berlalu dengan baik sebaik doa-doamu untuk anakmu, terutama untuk abang yang kemarin menjadi beban di benakmu, hari ini hari baru baginya bersama istrinya, tak perlu secemas kemarin, kini akan ada yang merawatnya kembali walau tak sama lagi, tapi bunda, tetaplah dengan doa baikmu itu, Allah selalu suka lirih dari hati wanita setulus dirimu. Segalanya bisa diperbaiki dengan kebaikan, meski yang terlihat masih saja terlihat buruk, tetaplah dengan doamu.
Jangan bersedih ketika tak banyak orang yang di sisimu ketika berduka, ketika bersusah, bahkan ketika sedarahmu pun abai, ada pula yang yang menghardik tentang aib, biarkan saja, ada aku dan kakak-kakak, ada abah disana, ada Allah, engkau sudah punya segalanya, kau tahu? Jadi sudahlah, usah cemaskan hari esok.
Pun jika setelahnya engkau akan risaukan tentang siapa yang akan meminangku, dahulukan risauku dulu tentang bagaimana aku kepadamu besok dan seterusnya, aku akan risau jika engkau sakit dan berduka, akan risau saat tak bisa memperlakukanmu dengan baik. Biarkan takdir melaju di atas relnya, jangan coba membelokkan apalagi menghentikan, akibatnya bisa fatal, untuk apa pikirkan soal kereta yang sudah jelas telah ada yang mengaturnya.
Malam ini istirahat saja, Bunda."
Akhirnya malam tiba juga
Malam yang kunantikan sejak awal
Malam yang menjawab akhir kita
Inikah akhir yang kita ciptakan
Dan pagi takkan terisi lagi
Lonceng bertingkah sebagaimana mestinya
Membangunkan orang tanpa membagi
Sedikit asmara untuk memulai hari
Tidurlah, malam terlalu malam
Tidurlah, pagi terlalu pagi
( Payung Teduh – Tidurlah )
Posted via Blogaway
Tampilkan postingan dengan label What a life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label What a life. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 November 2015
Istirahat saja, Bunda
Jumat, 03 April 2015
The opposite of death
“The opposite of death is not life... It's birth. What death takes away is birth, but the life continues.”
Kunyahan saya terhenti ketika kalimat itu keluar dari mulut si pembawa acara botak licin, Daddy Corbuzier di acara Hitam Putih beberapa hari yang lalu. Saya bukan pelahap acara-acara tivi. Sudah beberapa tahun ini saya jarang bahkan hampir tidak pernah menonton tivi dalam sehari. Disamping banyaknya acara yang semakin kesini semakin tidak berpendidikan dan asal-asalan saja ̶-- mainstream tentunya, juga karena ada beberapa kegiatan bersantai yang lebih membuat saya betah, contohnya seperti yang saya lakukan sekarang.
Kunyahan saya terhenti ketika kalimat itu keluar dari mulut si pembawa acara botak licin, Daddy Corbuzier di acara Hitam Putih beberapa hari yang lalu. Saya bukan pelahap acara-acara tivi. Sudah beberapa tahun ini saya jarang bahkan hampir tidak pernah menonton tivi dalam sehari. Disamping banyaknya acara yang semakin kesini semakin tidak berpendidikan dan asal-asalan saja ̶-- mainstream tentunya, juga karena ada beberapa kegiatan bersantai yang lebih membuat saya betah, contohnya seperti yang saya lakukan sekarang.
Sabtu, 28 Maret 2015
Anggap saja
Anggap saja aku sahabat yang sedang mengingatmu kembali.
Anggap saja aku orang asing jika seperti ini adanya kita sekarang. Anggap saja
kita tak pernah saling mengenal sebelumnya jika bisu kini menjadi pilihan kita.
Anggap saja.
Minggu, 22 Maret 2015
Logika dan Hati
“Hati-hatilah dalam menangkap
sinyal.”
Kalimat itu keluar untuk kesekian
kalinya dari sosok yang kini sudah kuanggap sahabat sendiri. Kami sudah lama
saling mengenal namun jarang duduk bersama. Ingin tahu kapan aku mulai
mengakrabinya? Sejak Hatiku berdarah-darah karena kedunguannya sendiri.
Sejak itu aku tak pernah mempercayainya lagi dan mulai mendengarkan sahabat
baruku; Logika.
Minggu, 15 Maret 2015
Magic and immortality
Kata orang, butuh luka
untuk menulis.
“Aku punya luka. Beberapa gores.” Ujar Olivia kemudian
menyesap hot americano dalam genggamnya.
“Menulislah Vi, itu akan membuatmu sedikit lebih baik.” Saranku.
Kamis, 12 Maret 2015
Kecewa, airmata dan pengasingan
Tuhan tak pernah berlebihan dan berkekurangan dalam menakar.
Semesta selalu tahu porsi yang tepat atas ketetapan-ketetapanNya di muka bumi.
Seperti aku, kamu juga mereka. Seperti apa yang telah ditetapkan dalam
kehidupan kita, Allah maha tahu apa yang pantas dan tak pantas. Mungkin kita
sempat bertanya-tanya akan kepantasan itu sendiri, apakah benar ketetapan itu
sudah sesuai perhitunganNya? Apakah adil itu hanya mampu dilihat dari sudut
pandangNya? Apa takdir itu memang benar adalah yang terbaik menurutNya? Dan
untuk mendapat jawaban dari itu semua bukan hal yang singkat untuk bisa
diterima dan dipahami manusia. Kita tahu sendiri ‘kan watak buruk manusia itu
sendiri. Sok tahu dan keras kepala.
Jumat, 27 Februari 2015
Pertunjukan langit dan Bangunan sebelah sana
Jumat pukul satu lewat beberapa menit.
Seusai menunaikan shalat Dhuhur, aku mengabadikan foto ini.
Pemandangan dari lantai dua tempatku berkantor yang terlihat
biasa saja mungkin, tapi sesungguhnya menyiratkan banyak makna di tiap senti
detilnya. Bermakna bagi sebagian kecil orang saja, termasuk aku tentunya.
Kamis, 19 Februari 2015
Pengemis yang miris
"Seorang wartawan dan penulis buku dari Inggris, bernama Matthew Solo, selama sebulan ia mengamati aktivitas para pengemis di Bangkok dan Kamboja.
Matthew, bersama temannya yang berasal dari Rumania, mendapat info, jika para pengemis itu bagian dari bisnis organisasi kejahatan."
Selasa, 17 Februari 2015
Truly deeply simply love
Malam ini aku akan bercerita sedikit berbeda. Mungkin
sedikit mendalam dan menyakitkan. Ini tentang kehilangan, kerinduan juga tentang
ikhlas itu sendiri. Tentang sosok yang amat kusayangi.
Ingin kuberitahu sebelumnya, mataku kini sudah sembab lebih dulu sebelum tulisan ini menyayat
penulisnya sendiri.
The only thing, that means everything to me
Cause when you're in my arms
You make me prouder than
Anything I ever could achieve
Jumat, 06 Februari 2015
A lil white jealousy
Entah mengapa setiap mendengar kabar seorang wanita akhirnya dipinang,
apalagi wanita itu adalah orang terdekat (Keluarga, sahabat, teman, tetangga,
bahkan selebriti), rasanya campur aduk antara bahagia, haru juga sedih. Sedih
tentunya, bisa dibilang cemburu tepatnya, jika yang mendengar itu adalah seseorang yang belum menikah. Seperti aku.
Senin, 02 Februari 2015
Ilusi yang mengabadi
Kau tanya aku siapa, kutanya kau siapa
ketidakjelasan ini, siapa yg peduli?
sejarahpun takkan tahu kisah ini benar ada
kita sepasang ilusi yang mengabadi
ketidakjelasan ini, siapa yg peduli?
sejarahpun takkan tahu kisah ini benar ada
kita sepasang ilusi yang mengabadi
Selasa, 27 Januari 2015
Bingkai ilusi
Teriris, melihat bulirmu jatuh dari mata
namun bukan itu yang paling melukaiku
melainkan jemari yang tak mampu menyeka, apalagi menggenggammu
namun bukan itu yang paling melukaiku
melainkan jemari yang tak mampu menyeka, apalagi menggenggammu
Rabu, 21 Januari 2015
B-a-h-a-g-i-a
Mungkin terlambat untuk dipahami, namun itu tak masalah
memahami bahwa kita tak perlu memohon kebahagiaan pada Tuhan.
memahami bahwa kita tak perlu memohon kebahagiaan pada Tuhan.
Senin, 19 Januari 2015
Terlalu pagi
Aku tidak pernah menyangka
bahwa kehidupan setelah pernikahan adalah rumit. Bahkan sangatlah rumit. Saat
usiaku masih kanak-kanak hingga menginjak remaja, kebahagiaan dan keindahan
kebersamaan setelah menikah menjadi draft-draft indah dikepalaku. Walaupun saat
itu, aku sudah sedikit mengerti bahwa akan selalu ada pertengkaran dan
perselisihan yang terselip di setiap episodenya.
Kamis, 15 Januari 2015
Si Baik, kebaikan, dan yang terbaik
Hal yang terus membuatmu seperti ini, tidak lain karena di matamu dia adalah orang yang baik, selalu baik.
Dan dengan kenyataan bahwa kini dia telah mencampakkanmu, dirimu tidaklah benar-benar percaya tentang itu. Mulutmu memang mengakui seseorang telah pergi, tapi tidak dengan hatimu. Hatimu tidak berubah. Sama sekali tidak.
Senin, 08 Desember 2014
Kamu indah, Kamu layak
Para wanita, mungkin kalian pernah merasakan hal ini; ketika kita bisa menerima bahwa kita bukan wanita terpilih yang layak untuk diperjuangkan. Pernahkah?
Entah. Mungkin tanpa saya sadari beberapa waktu terakhir ini saya sedang berusaha mendoktrin pikiran untuk mempercayai suatu hal:
“Ketika kamu harus mencintai seorang lelaki, maka cintailah lelaki yang memperjuangkan mu”
Jumat, 31 Mei 2013
Si Hypophrenia
Hypophrenia..
Perasaan sedih yang
tiba-tiba muncul tanpa alasan..
Mungkin itu sebutan yang tepat dengan apa yang dirasakan Gadis itu malam ini..
Gadis itu hanya ingin berdiam dikamar saja sejak beberapa jam yang lalu. Menyendiri, mematikan
lampu, memutar musik sembari menghabiskan beberapa puntung rokok. Ia melakukan apa saja. Berusaha memberi kesempatan untuk Ia dan dirinya mendengar apa yang dikatakan hatinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
