23 April di tahun itu jatuh pada hari minggu. Hari dimana kebanyakan orang libur dari rutinitas dan menghabiskan tiket bebas penjaranya untuk bersantai dan liburan, entah bersama keluarga atau tanpa siapa-siapa.
Tampilkan postingan dengan label Slice of story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Slice of story. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 April 2015
Pak tua dan si Putih
23 April di tahun itu jatuh pada hari minggu. Hari dimana kebanyakan orang libur dari rutinitas dan menghabiskan tiket bebas penjaranya untuk bersantai dan liburan, entah bersama keluarga atau tanpa siapa-siapa.
Kamis, 09 April 2015
Dia - Sebuah pertemuan dan buku tua
Sesungguhnya aku tidak mengerti beberapa hal di dunia ini. Pertama tentang mengapa kebahagiaan harus diukur berdasarkan takaran orang lain, padahal hidup kita sepenuhnya adalah milik kita sendiri.
Lalu mengapa ada orang yang memilih berhenti di satu titik luka. Bagi si A, dua tiga luka saja belum cukup dan bagi si B, satu luka sudah membuatnya jera untuk memulai lagi. Bukankah masih ada beribu episode di depan mata? Dan katanya, Luka-luka itulah yang kadang menjadi alasan kita masih harus melanjutkan langkah. Kadang aku ingin berjalan lagi. Kadang aku ingin berhenti. Lebih sering aku ingin berhenti karena takut jatuh dan terluka.
Lalu mengapa ada orang yang memilih berhenti di satu titik luka. Bagi si A, dua tiga luka saja belum cukup dan bagi si B, satu luka sudah membuatnya jera untuk memulai lagi. Bukankah masih ada beribu episode di depan mata? Dan katanya, Luka-luka itulah yang kadang menjadi alasan kita masih harus melanjutkan langkah. Kadang aku ingin berjalan lagi. Kadang aku ingin berhenti. Lebih sering aku ingin berhenti karena takut jatuh dan terluka.
Minggu, 05 April 2015
Gadis bertudung biru muda
Tubuh mungil itu sibuk memeluk dirinya sendiri. Belulangnya ngilu, sendi-sendinya terasa lepas dari tempatnya berpaut. Kedua lututnya yang meski rapuh namun masih tabah menopang kepala yang sesak akan penat. Wajah itu bersitatap dengan tanah dan rambut sebahu jatuh pasrah menyentuhnya. Sehelai kain biru muda remuk dalam remasan. Shayna terlalu lelah hari ini. Bukan hanya hari ini, tapi sejak berhari-hari yang lalu. Tak ada yang tahu tepatnya kapan, yang jelas raganya kini ringkih digerus rutinitas.
Rabu, 25 Maret 2015
Stupidity
Orang bilang aku
wanita cantik tapi dungu. Aku punya segalanya tapi mengapa aku masih saja rela
dipermainkan Ricky. Ya, dipermainkan katanya. Jelas kalimat itu keluar dari
mulut-mulut nyinyir mahasiswi di kampusku saat aku berjalan melewati mereka dengan langkah anggun dan pongah. Begitupun sebaliknya kalimat yang didengar Ricky dari mulut teman
prianya.
Masih
“Sarah, selamat
ulang tahun sayang.” Seruku pada putri tunggalku.
“Semoga panjang umur
anakku.” Sambung Ayahnya yang berdiri tepat di sebelahku.
“Ayah.. bunda..” Sarah yang sudah terlelap sejak pukul Sembilan tadi seketika menggeliat dan melompat memeluk kami saat memberinya surprise yang tak pernah absen kami lakukan setiap tahunnya. Ia tersenyum lebar juga pada matanya. Senyum yang menyamarkan rasa kantuk yang menjarah mata indah miliknya yang kini sembab. Bagi kami kebahagiaan Sarah adalah segalanya. Kebahagiaan yang seharusnya kami jaga seutuhnya untuk Sarah. Seutuhnya.
Minggu, 22 Maret 2015
Let it be my way
Kendaraan-kendaraan yang ditepikan
berjejer memenuhi pekarangan yang sedang kususuri. Sekumpulan orang yang
kupastikan adalah tamu undangan menyesaki teras rumah. Sebelum masuk dan
membaur, aku sempat terdiam menikmati pemandangan rumah yang dulu begitu kuakrabi.
Kini semua terasa asing. Kulewati pekarangan itu dengan gugup yang membenih.
Rabu, 18 Maret 2015
Apa lagi yang kita tunggu?
“Mungkin ini bukan yang pertama, Cha. Tapi kali ini gue mau sampein sesuatu yang beda dari kemaren. Yang bagi elo janji-janji semasa pacaran adalah hal murahan yang bisa dilakuin siapa aja. Padahal sih alasan sebenernya karena elo trauma aja ditinggalin. Intinya cuman mau loe tahu aja kalo gue juga capek sama perdebatan kita belakangan ini soal tujuan komitmen, jadi gue.. gue akan ngelamar elo.”
Resiko jatuh cinta
Mobilku
menepi di depan supermarket tak jauh dari rumah gadis di sebelahku. “Nafiya,
atau Naf saja.” Begitu gadis itu berujar tiga bulan lalu saat pertama kali kami berkenalan di sebuah warung cepat saji. Senyumnya hari itu kuanggap sebagai sapaan yang membuat langkahku mendekat menuju mejanya. Pertemuan yang kami sebut takdir.
Minggu, 15 Maret 2015
Magic and immortality
Kata orang, butuh luka
untuk menulis.
“Aku punya luka. Beberapa gores.” Ujar Olivia kemudian
menyesap hot americano dalam genggamnya.
“Menulislah Vi, itu akan membuatmu sedikit lebih baik.” Saranku.
Minggu, 01 Maret 2015
Surat pengakhir kisah
Ini surat dariku,
dari wanita untuk wanita yang diceritakan penulis dalam “Bintang untuk Fiersa.”
Surat ini tak jauh dari pembahasan tentang Fiersa, pria yang
sering didengung-dengungkan namanya dalam cerita. Sosok pria yang harus ditempa
kepelikan hidup juga sepi yang menyesakinya. Namun sisi baiknya, dua nama yang disisipkan penulis diam-diam menyematkan noktah cinta yang menuai tulus. Bahwa tetap di sisinya adalah cinta meski tak memiliki. Bahwa merelakannya bersama yang lain adalah cinta meski tak terungkap. Satu nama wanita itu kini bersama-sama Fiersa menjalankan usaha kedai kopi, dan satu nama wanita lagi menghilang tanpa
menitipkan pesan dan berpamit sebelumnya pada Fiersa.
Rabu, 18 Februari 2015
Seribu tahun
“Ra.. boleh aku bertanya sesuatu?”
“Silahkan.”
“Pertanyaan ini sudah lama ingin kutanyakan, tapi aku
menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya.” Fatir menatap lamat-lamat gadis dihadapannya.
“Langsung ke intinya.”
“Begini, kamu pernah bilang, kamu berharap seseorang bisa
membawamu pergi dari kehidupanmu sekarang?”
Rahasia Delia
“Terima kasih Rey, karena kamu ada disampingku saat orang
lain memilih pergi.”
“Kamu enggak perlu berkata seperti itu. Aku menikahimu
tanpa paksaan siapapun. Ini murni keinginanku sendiri.” Ucapnya sambil
menggenggam jemari wanitanya.
Delia tersenyum beranjak dari tempat tidurnya.
“Kau baik-baik saja, Del?” Airmata bergulir di pipi
wanita itu.
Minggu, 08 Februari 2015
Bintang untuk Fiersa
Langkah sepasang kaki dengan
sepatu berpoles pink-grey membabi buta menyusuri sisi lapangan
olahraga pagi ini. Matahari bahkan masih enggan membias cahaya, tapi sang
langkah tak sekalipun terhenti dari pelariannya. Di tengah pancaran mentari
yang masih ragu-ragu, ujung jilbab orange yang terjuntai di bahu, beterbangan di halau angin. Laju
langkah yang semakin menggila itu tak peduli akan halang dan sandung. Bahkan
jika pun harus terhempas ke tanah tak masalah, rasa pilu di dada kini lebih
sakit dari sekedar luka gores di kulit. Semakin kencang dan semakin kencang, berharap
pelarian ini menerbangkan tapak, hingga tak lagi menyentuh tanah.
Ya, sepasang derap
memburu itu milikku.
Sabtu, 31 Januari 2015
Seribu pertanyaan
Aku kembali melirik ponselku, tak ada chat darinya
malam ini. Mengapa? Mengapa aku harus menunggu? Mengapa aku harus mencari? Biarkan
saja, memangnya untuk apa aku menunggu dan mencari? Ya, tak seharusnya seperti
itu.
Tak seharusnya.
Tak seharusnya.
Jumat, 31 Mei 2013
Panggil dia Susu Dangke
Rani benar-benar lelah karena keruwetan hari ini. Ini memang bukan yang pertama
terjadi, tentang dimaki costumer sudah jadi makanan sehari-harinya di kantor,
yang membuat hari ini benar-benar menyebalkan adalah tingkah sebagian rekannya yang suka seenaknya, atasan yang terlalu sibuk dan sering meninggalkan kantor
untuk urusan bisnisnya yang lain, juga Ia yang tidak ingin mencari masalah
dengan mereka kalau-kalau Ia adukan kelakuan mereka pada atasan. Hmm, sama
saja cari musuhkan? Dan diam mungkin tindakan paling tepat, pikirnya.
Si Hypophrenia
Hypophrenia..
Perasaan sedih yang
tiba-tiba muncul tanpa alasan..
Mungkin itu sebutan yang tepat dengan apa yang dirasakan Gadis itu malam ini..
Gadis itu hanya ingin berdiam dikamar saja sejak beberapa jam yang lalu. Menyendiri, mematikan
lampu, memutar musik sembari menghabiskan beberapa puntung rokok. Ia melakukan apa saja. Berusaha memberi kesempatan untuk Ia dan dirinya mendengar apa yang dikatakan hatinya.
Selasa, 28 Mei 2013
Cinta Absurd
Amelia berterima kasih untuk broadcast itu, untuk omong kosong buatan akun @topongoro_, berkat itu ia akhirnya punya alasan untuk chat dengannya, pria yang telah menghiasi mimpi-mimpi indahnya beberapa waktu terakhir. Percakapan singkat. Singkat sekali. Basa basi. Yang mungkin tidak berarti apa-apa. Itu bagi si pria. Tapi bagi Amel? Entahlah. Entah disebut apa jika dirinya kini sangat senang membuka riwayat obrolan dengan pria itu dan membacanya berkali-kali, meng-capturenya, menjadikannya wallpaper atau display pict. Itu yang ia kulakukan. kenapa? berlebihan? tapi Amel bahagia.
Langganan:
Postingan (Atom)