Tuhan tak pernah berlebihan dan berkekurangan dalam menakar.
Semesta selalu tahu porsi yang tepat atas ketetapan-ketetapanNya di muka bumi.
Seperti aku, kamu juga mereka. Seperti apa yang telah ditetapkan dalam
kehidupan kita, Allah maha tahu apa yang pantas dan tak pantas. Mungkin kita
sempat bertanya-tanya akan kepantasan itu sendiri, apakah benar ketetapan itu
sudah sesuai perhitunganNya? Apakah adil itu hanya mampu dilihat dari sudut
pandangNya? Apa takdir itu memang benar adalah yang terbaik menurutNya? Dan
untuk mendapat jawaban dari itu semua bukan hal yang singkat untuk bisa
diterima dan dipahami manusia. Kita tahu sendiri ‘kan watak buruk manusia itu
sendiri. Sok tahu dan keras kepala.
Kamis, 12 Maret 2015
Rabu, 11 Maret 2015
Pahit
Sebelumnya aku
minta maaf, sepertinya kita enggak bisa lagi melanjutkan hubungan ini karena ada
beberapa hal yang kita enggak bisa terusin. Aku minta maaf harus seperti ini.
Mataku membelalak membaca kata per kata pesan itu. Setiap
kata serasa menohokkan satu belati ke jantungku. Batinku berteriak tak percaya
dengan apa yang barusan kubaca. Aku tidak sedang berkhayal, pesan itu nyata.
Sekeras apapun aku berusaha mengelak, kenyataannya Dion telah memutuskan
hubungan kami melalui pesan itu. Hubungan yang telah lama kami jalin berakhir di
sebuah pesan singkat. Singkat namun tikamannya tepat sasaran. Menembus jantung.
Dosa
Sayup-sayup kudengar ada orang yang mengetuk pintu
kamarku. Aku menggeliat di kasur lalu melirik jam beker di sisi kananku, pukul
06.12. Ini hari minggu, harusnya haram membangunkan seseorang sepagi ini. Aku turun
dari tempat tidur dengan langkah sempoyongan, membuka pintu, dan orang yang berdiri dibalik
pintu seketika membelalakkan mata 10 ton ku.
Senin, 02 Maret 2015
Perindu terhormat
Ini satu rindu kuterbangkan lirih bersama do’a
Tidak seperti rindu di malam-malam sebelumnya
Yang histeris meraungkan satu nama penuh benci
Tajam mencabik lalu beringas
Minggu, 01 Maret 2015
Surat pengakhir kisah
Ini surat dariku,
dari wanita untuk wanita yang diceritakan penulis dalam “Bintang untuk Fiersa.”
Surat ini tak jauh dari pembahasan tentang Fiersa, pria yang
sering didengung-dengungkan namanya dalam cerita. Sosok pria yang harus ditempa
kepelikan hidup juga sepi yang menyesakinya. Namun sisi baiknya, dua nama yang disisipkan penulis diam-diam menyematkan noktah cinta yang menuai tulus. Bahwa tetap di sisinya adalah cinta meski tak memiliki. Bahwa merelakannya bersama yang lain adalah cinta meski tak terungkap. Satu nama wanita itu kini bersama-sama Fiersa menjalankan usaha kedai kopi, dan satu nama wanita lagi menghilang tanpa
menitipkan pesan dan berpamit sebelumnya pada Fiersa.
Langganan:
Postingan (Atom)