YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Laman

Kamis, 10 September 2015

Serba ada atau serba cukup?

Pasti indah sekali ya punya hidup serba berlebih, serba ada, ingin ini ingin itu tinggal bilang saja. Sekedipan mata, semua terpenuhi, bahkan yang tak kau butuhkan sebelumnya pun ada, pokoknya tak harus menunggu lama, bersungut-sungut, merengek, apalagi sampai keluar peluh untuk mendapatkannya.

Mungkin seperti itulah kehidupan seseorang yang bergelimang harta, kekuasaan, kedudukan atau strata sosial yang tidak biasa di masyarakat. Terhormat, terpandang, terkenal, setiap kali melewati jalan, yang ada orang-orang akan berwah-wah ke arahnya. Kehidupan semacam itu, siapa yang tak ingin? Lebih tepatnya, siapa yang tak iri? Kau mau? Gampaaaang…

Sebenarnya di jaman ini, mudah saja memiliki kehidupan bak konglomerat macam itu, meski kita hanya bermodalkan niat dan camera 360 saja sudah cukup *eh.
Bukan hidupnya yang saya maksudkan tapi gaya hidupnya. Gaya hiduplah yang memberi manusia merk secara kasat mata. Gaya hiduplah yang dijadikan citra diri, gaya hiduplah yang bahkan mungkin manusia mati-matian memenuhinya walau tak dibawa sampai mati. Kepuasan batin? Entahlah. Mungkin lebih tepatnya kusebut saja “gengsi.”


Memang apa yang sebenarnya paling diincar seseorang saat terlihat me-waaaah ? Pujian kan? Aku paham, ada kepuasan tersendiri bagi seseorang yang amat sangat suka dipuji dan disanjung saat berhasil membuat lawannya iri. Jadi jika sudah punya niat untuk bergaya hidup mewah, tunaikan dengan memoles penampilan dan lihai memamerkan kepalsuan, berbohong itu perlu saat kau harus berlagak parlente walau sebenarnya tak mampu, dengan mudah orang sejenis itupun akan berdecak kagum, merasa iri, kemudian berbenihlah “gengsi” di antara mereka, perasaan tak terima akan tumbuh, membuat yang lain ikut memoles penampilan juga pamer sana-sini. Dan jadilah budaya makhluk sekulerisme itu semakin lama semakin mengakar.

Itulah gaya hidup, sesuatu yang mungkin sedang mencekik urat saraf manusia kekinian.

Jika kau tanyakan apa itu hidup, hidup itu sederhana. Bahkan ketika kau hanya memiliki apa yang orang lain tak syukuri dan amat sangat menghargainya itulah hidup dengan sebenar-benarnya hidup, ketika kau mampu melihat apa yang kebanyakan manusia tak menghiraukannya, saat itulah kau sedang hidup.

Adakah yang berpikir aku terkesan sedang menyudutkan orang kaya? Tidak sama sekali. Aku sedang tidak membandingkan si kaya dan si miskin harta disini, ini hanya tentang mental dan pencitraan “hidup” yang sering di salah artikan manusia. Aku saja masih sangat fakir ilmu tentang kehidupan, hanya berbagi sedikit potret dari sisi yang berbeda.


Pernah suatu kali aku bertanya pada seorang kawan, apakah yang paling disyukuri dalam hidupnya,
“Saat aku terlahir dari keluarga yang tak punya.” Jawabnya.

Aku tak lantas bertanya apa maksudnya, bahkan menunggu kelanjutannya, jawabannya memang singkat namun itu telah menjelaskan banyak hal padaku. Kau tahu, dia calon sarjanawan yang selama ini menyambi menjadi tulang punggung keluarganya. Ia memulai perjuangan dari nol, di tempa ujian hidup dari bawah, tak jarang ia menangis, hanya menangis lalu kembali melanjutkan rutinitasnya yang bagi orang lain mungkin sangat menguras tenaga demi penghasilan yang tak seberapa. Akupun berkesimpulan, kekuatan yang ia dapatkan setiap hari selama ini tak lain karena pandainya ia menghargai hidup. Ia dibebani ujian yang anak seusianya mungkin belum tentu mampu menanggungnya dan ia mensyukuri itu.

“Setidaknya kalau aku kaya nanti dan tiba-tiba bangkrut, aku tidak akan stress. Hidup susah mah udah terlalu mainstream buat aku, jadi biasa aja. Hahaha..” Celetuknya tiba-tiba. Hidup itu sederhana bukan?


Tidakkah kita berpikir, kunci hidup itu cukup dengan rasa cukup. Rasa cukup itu lebih tinggi harganya dari perasaan manapun yang kita rasakan, melebihi rasa puas ketika disanjung orang lain. Rasa cukup itu mahal, tak terbeli, tak mudah dirasakan manusia bermental "anti kelihatan melarat", dibayar berapapun, dipoles sebagaimana pun takkan bisa perasaan itu muncul bagi orang-orang palsu.

Perasaan cukup itu hanya berbenih pada jiwa yang jujur, terhadap dirinya dan orang lain. Tak peduli di garis mana sang Maha Pengatur menaruhnya dalam kasta, manusia yang merasa cukup akan selalu tertawa renyah saat bahagia, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Dan lagi, perasaan cukup itu tidak berasal dari orang bawahan saja, yang tinggal di gang-gang sempit nan bau, perasaan cukup itu ada dalam jiwa seseorang yang sering lupa,

lupa meminta apa-apa lagi pada sang Maha Pemurah dikarenakan terlalu sibuk bersyukur.



Posted via Blogaway


Jumat, 24 April 2015

Pak tua dan si Putih



23 April di tahun itu jatuh pada hari minggu. Hari dimana kebanyakan orang libur dari rutinitas dan menghabiskan tiket bebas penjaranya untuk bersantai dan liburan, entah bersama keluarga atau tanpa siapa-siapa.

Kamis, 09 April 2015

Dia - Sebuah pertemuan dan buku tua

Sesungguhnya aku tidak mengerti beberapa hal di dunia ini. Pertama tentang mengapa kebahagiaan harus diukur berdasarkan takaran orang lain, padahal hidup kita sepenuhnya adalah milik kita sendiri.
Lalu mengapa ada orang yang memilih berhenti di satu titik luka. Bagi si A, dua tiga luka saja belum cukup dan bagi si B, satu luka sudah membuatnya jera untuk memulai lagi.  Bukankah masih ada beribu episode di depan mata? Dan katanya, Luka-luka itulah yang kadang menjadi alasan kita masih harus melanjutkan langkah. Kadang aku ingin berjalan lagi. Kadang aku ingin berhenti. Lebih sering aku ingin berhenti karena takut jatuh dan terluka.

Minggu, 05 April 2015

Gadis bertudung biru muda





Tubuh mungil itu sibuk memeluk dirinya sendiri. Belulangnya ngilu, sendi-sendinya terasa lepas dari tempatnya berpaut. Kedua lututnya yang meski rapuh namun masih tabah menopang kepala yang sesak akan penat. Wajah itu bersitatap dengan tanah dan rambut sebahu jatuh pasrah menyentuhnya. Sehelai kain biru muda remuk dalam remasan. Shayna terlalu lelah hari ini. Bukan hanya hari ini, tapi sejak berhari-hari yang lalu. Tak ada yang tahu tepatnya kapan, yang jelas raganya kini ringkih digerus rutinitas.

Jumat, 03 April 2015

The opposite of death

“The opposite of death is not life... It's birth. What death takes away is birth, but the life continues.”

Kunyahan saya terhenti ketika kalimat itu keluar dari mulut si pembawa acara botak licin, Daddy Corbuzier di acara Hitam Putih beberapa hari yang lalu.  Saya bukan pelahap acara-acara tivi. Sudah beberapa tahun ini saya jarang bahkan hampir tidak pernah menonton tivi dalam sehari. Disamping banyaknya acara yang semakin kesini semakin tidak berpendidikan dan asal-asalan saja ̶-- mainstream tentunya, juga karena ada beberapa kegiatan bersantai yang lebih membuat saya betah, contohnya seperti yang saya lakukan sekarang.