Sesungguhnya aku tidak mengerti beberapa hal di dunia ini. Pertama tentang mengapa kebahagiaan harus diukur berdasarkan takaran orang lain, padahal hidup kita sepenuhnya adalah milik kita sendiri.
Lalu mengapa ada orang yang memilih berhenti di satu titik luka. Bagi si A, dua tiga luka saja belum cukup dan bagi si B, satu luka sudah membuatnya jera untuk memulai lagi. Bukankah masih ada beribu episode di depan mata? Dan katanya, Luka-luka itulah yang kadang menjadi alasan kita masih harus melanjutkan langkah. Kadang aku ingin berjalan lagi. Kadang aku ingin berhenti. Lebih sering aku ingin berhenti karena takut jatuh dan terluka.
Lalu mengapa ada orang yang memilih berhenti di satu titik luka. Bagi si A, dua tiga luka saja belum cukup dan bagi si B, satu luka sudah membuatnya jera untuk memulai lagi. Bukankah masih ada beribu episode di depan mata? Dan katanya, Luka-luka itulah yang kadang menjadi alasan kita masih harus melanjutkan langkah. Kadang aku ingin berjalan lagi. Kadang aku ingin berhenti. Lebih sering aku ingin berhenti karena takut jatuh dan terluka.